Nyawa Tanpa Raga: Cerita Sang Renta Renta
Enam puluh sembilan tahun yang lalu, saya yakni seorang bayi yang sangat lucu dan menggemaskan. Bukannya narsis, tapi memang begitulah kenyataannya. Aku terlahir dari orang renta yang hebat. Bapak dan ibuku yakni orang-orang yang bakir pada masa itu. Begitu juga dengan kakek, nenek, paman, dan bibiku. Aku sangat senang alasannya yakni saya terlahir di antara manusia-manusia hebat.
Ah yaa, saya lupa, saya benar-benar lupa. Ingatan tuaku memang sering melupakan hal-hal sepele. Aku belum memperkenalkan namaku. Kalau dipikir-pikir, mungkin namaku yakni nama paling panjang di republik ini, bahkan mungkin paling panjang di seluruh dunia. Atau, mungkin kalau saya boleh narsis (lagi), mungkin namaku yakni nama paling panjang di antara nama-nama yang pernah ada. Perkenalkan, namaku “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”.
Sekarang mari kita kembali ke masa laluku. Aku tumbuh dari seorang bayi lucu dan menggemaskan menjadi seorang dewasa yang tampan dan mempesona. Berkat kehadiranku, banyak orang yang mengikuti jejak bapak, ibu, paman, dan bibiku. Mereka menjadi orang-orang yang terpelajar. Tak menyerupai dahulu sebelum saya dilahirkan, hanya kalangan aristokrat saja yang bisa menjadi orang terpelajar. Rakyat jelata? Silahkan mereka menikmati mimpi-mimpi mereka di atas dipan-dipan buruk yang teronggok di gubuk-gubuk renta milik mereka.
Namun, semakin usang saya merasa abnormal dengan diriku sendiri. Kesenanganku hanya bertahan sepersekian detik. Ampas-ampas kekejaman kolonial ternyata masih berkembang di daerah kelahiranku. Mari kuungkapkan bukti-buktinya satu per satu.
Aaah! Mataku! Mana mataku? Suatu siang yang panas, saya harus kehilangan mataku. Yeah, benar-benar kehilangan mataku, kehilangan penglihatanku. Setelah kutelusuri, ternyata penyebabnya cukup menciptakan bulu kuduk bergidik: aneka macam sekolah yang menolak bibit-bibit unggul bangsa hanya alasannya yakni alasan “anak ini tidak bisa melihat, mereka hanya akan merepotkan saja”.
Belum lagi hilang keterkejutanku, dan… Ah! Apa lagi ini? Kakiku! Tanganku! Ah tidak! Kemana kaki dan tanganku? Ya ya ya, sekarang saya mulai mengerti. Banyak pula sekolah-sekolah yang menolak belum dewasa cerdas hanya alasannya yakni “mereka tidak punya tangan”, atau “mereka tidak punya kaki”.
Semakin menanjak usiaku, semakin banyak anggota tubuhku yang hilang. Suatu hari, ketika saya sedang bersantai menikmati indahnya pagi –tentu saja tanpa mata, tangan, dan kaki-, sekonyong-konyong saya dikejutkan dengan hilangnya pendengaran dan lidahku. Yeah, lagi-lagi ada forum pendidikan yang menolak penerus bangsa hanya alasannya yakni “mereka tidak sanggup berbicara dan mendengar, bagaimana caranya kami –yang normal ini- bisa berkomunikasi dan mengajar mereka?”
Ah, biarlah. Aku pun terus menjalani hidup dengan badan yang sudah tak terang bentuk dan rupanya. Suatu sore, saya sedang tergolek di atas dipan renta peninggalan bapakku. Tiba-tiba terasa gejolak di dalam perutku, dan… AAAH! Perutku! Ususku! Lambung, pankreas, empedu, rectum, dan… Ah! Semua organ-organ pencernaanku tiba-tiba melompat keluar dari tubuhku dan menghilang entah ke mana. Apa lagi ini? Yeah, saya mengerti. “Kau tak boleh bersekolah alasannya yakni kamu tak punya biaya untuk membayar kami. Untuk makan saja kamu sudah kepayahan, lantas buat apa kamu sekolah?”
Kini, di usiaku yang sudah menginjak enam puluh sembilan tahun, saya hanya punya nyawa –dan sedikit kulit yang masih terlihat tidak mengecewakan bagus-. Kulit? Mengapa kulit? Itulah perlambang segelintir orang yang bisa menyebutkan nama belakangku dengan bangga: pendidikan. Ya, hanya segelintir orang yang bisa memperoleh pendidikan; orang-orang yang tampak tepat tanpa kurang suatu apa pun. Mereka punya segalanya; punya mata, telinga, tangan, kaki, lidah, telinga, dan tentu saja organ pencernaan yang sehat dan perut yang kenyang. Beruntung sekali mereka. Namun, tidak! Aku sama sekali tidak senang. Mereka memang bisa memperoleh nama belakangku. Namun, hasilnya sebagian besar mereka gunakan untuk menindas, dan pada hasilnya mereka melaksanakan hal yang sama menyerupai kisah-kisahku yang sebelum ini kuceritakan; mereka mendiskriminasi kalangan yang berdasarkan mereka “tak sempurna”, “tak mampu”, dan “hanya bisa merepotkan”.
Entah apa yang sekarang sanggup kuperbuat. Kini saya hanyalah seonggok nyawa tanpa raga. Aku hanya bisa melayang memutari republik ini dengan bayang-bayang kesempurnaan masa kemudian –yang hanya berlangsung sepersekian detik itu-.
Jika datang ajalku nanti, saya hanya bisa berharap terjadi sesuatu yang bisa memperbaiki keadaan. Aku yakin suatu dikala nanti tubuhku yang sudah tercerai berai sanggup kembali ke posisinya masing-masing, dan namaku yang panjang itu: “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan” akan benar-benar bergaung secara utuh di negeri ini tanpa dirusak oleh “diskriminasi”.
Sumber gamepelajar.xyz
Posting Komentar untuk "Nyawa Tanpa Raga: Cerita Sang Renta Renta"