Musuh Berhati Malaikat
Tak pernah terbayang dibenakku, sosok yang paling kubenci kini berada disampingku dengan tawanya dan keadaan tak sesempurna dulu.
Tak pernah terbayangkan dibenakku, sosok yang berkuasa, kini merangkul erat di sampingku..
Dan tak pernah terbayangkan dibenakku, bahwa seseorang yang kuanggap musuh ternyata berhati malaikat.
Namaku, Aqilah. Siswi yang tengah duduk di dingklik kelas 3 Sekolah Menengan Atas yang kini sibuk dengan UN. Aku tak tahu semenjak kapan saya mulai dekat dengan Nurul, sahabat sewaktu TPA dulu. Dia lebih renta setahun dariku, beliau sosok yang cerdas alasannya riwayat prestasi di sekolahnya tak pernah menyimpang dari juara 3 besar sebelum beliau mendapat cobaan dari Allah. Dan saya pun tak tahu semenjak kapan saya mulai menyenanginya.
Aku bertemu Nurul kembali dikala saya tetapkan untuk bergadung dalam sebuah organisasi Islam di dekat rumahku. Dan semenjak itulah, saya mulai menjalani kisah hidup yang baru, termasuk berteman dengan para disabilitas termasuk Nurul.
UN Sekolah Menengan Atas lebih dulu dilaksanakan dari UN Sekolah Menengah Pertama dan UN SD. Oleh lantaran itu, saya mempunyai cukup waktu untuk memenuhi undangan Nurul didampingi mengisi lembaran tanggapan UN, lantaran keterbatasannya kini.
Awalnya saya ragu, alasannya ini pertama kalinya saya mendampingi seorang tuna netra. Selama perjalanan di sekolah, pikiranku tak hentinya memikirkan bagaimana caraku memberikan maksud soal dengan Nurul, padahal sebelumnya saya hanya membacakan soal untuk diriku sendiri bila ulangan.
“ Qila, mungkin nanti saya agak banyaomong yah, tapi kau jangan khawatir, kau cukup bacakan saja, nanti saya yang jawab.” Ujar Nurul membaca kegelisahanku. Meskipun begitu, tetap saja perasaanku tetap ragu, apa saya bisa atau tidak?
Tepat pukul 07.30 WITA, Ujian Nasional dengan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di mulai. Aku sempat mengamati sekelilingku. Ada empat siswa termasuk Nurul yang tengah mengikuti ujian nasional beserta empat pendamping termasuk aku. Dan saya yang termuda di antara mereka, lantaran dua pendamping yaitu anak kuliahan yang nampaknya sudah hampir selesai. Dan para guru kebanyakan ibu-ibu, umur mereka sekitar 30an. Gurunya pun sangat memaklumi keadaan mereka. Seketika saya kagum dengan para guru SLB yang dengan sabar mengajari mereka hingga kelas 3 SMP. Tentu saja, mengajar tuna netra akan jauh lebih susah dibanding mengajar anak yang normal.
Aku masih disamping Nurul, beberapa soal saya biarkan Nurul yang mengerjakannya, dan sisanya, saya coba untuk menjawab tanpa sepengatahuannya. Aku beberapa kali melirik ke arah sahabat Nurul yang lain, hanya Nurul yang perempuan, sedangkan ketiga temannya laki-laki. Mereka serius dengan mencakar dengan goresan pena yang sama sekali tak kumengerti, dan kadang berpikir keras untuk mencari jawabannya dengan pikiran mereka. Aku merasa aib sendiri, melihat semangat mereka untuk menerjakan soal UN, tanpa atau dengan bantuan, setidaknya mereka selalu berusaha semaksimal mereka. Jika saya melihat di sekolahku, dan beberapa anak Sekolah Menengan Atas lain yang lebih beruntung dari mereka, yang selalu mengharapkan kunci tanggapan entah dari mana, dan dengan cara apa mereka mendapatkannya, tanpa berusaha mencar ilmu dan memaksimalkan berusaha sendiri untuk menjawab soal padahal mereka bisa untuk itu.
Tuna netra atau penyandang disabilitas yang lain harus melaksanakan perjuangan dua-tiga-empat bahkan tak terhitung kalinya lebih keras dari mereka yang normal. Lantas mengapa kita yang normal menyia-yiakan kesempurnaan kita untuk melaksanakan hal yang sia-sia? Itu juga teguran keras bagi diriku lantaran hingga dikala ini belum bisa menghasikan sesuatu yang berguna.
Tepat pukul 09.30 WITA. Lembar soal dan tanggapan telah dikumpulkan. Aku pun menuntunnya untuk ke koridor sekolah dan duduk di salah satu sudutnya. Nurul tepat berada di samping kananku, sedang duduk dan bercanda-canda dengan temannya yang sama-sama telah menuntaskan soal UN dikala ini.
Melihat Nurul yang kini berada disamping kananku, ingatanku kembali pada masa dikala di TPA dulu. Sikapnya yang begitu besar kepala bersama teman-temannya, dengan kecerdasan dan ayah yang seorang Imam mesjid di TPA, menciptakan dirinya kolam ratu yang bersinar, dan saya sangat menbencinya. Iri? Entahlah, yang terperinci saya membencinya. Membencinya disaat beliau menyuruh yang lebih muda darinya, menciptakan heboh suasana dan gayanya bersama teman-temannya yang menurutku terlalu berlebihan. Dan alhasil saya pun tetapkan untuk berhenti.
“ Qila,..” Suara Nurul membuyarkan lamunanku. “ Aku senang banget lantaran kau mau dampingi saya UN hari ini. Makasih yah.” Lanjut Nurul dengan senyum bahagia.
“ Ohh..iya.. sama-sama. Aku juga senang bertemu teman-teman kamu.” Ujarku asal, entah itu nyambung atau tidak.
“ Qil, kita pulangnya nanti aja yah. Aku lagi nunggu tukang bakso. Baksonya yummy banget loh.” Ujar Nurul dikala saya hendak mengajak Nurul pulang
“ Kamu kan tidak boleh mami makan bakso, Nurul?” Selidikku. Mami sebutan dekat dari mamanya Nurul yang sekaligus menjadi orang renta di Irmani (Organisasi Islam di dekat rumahku)
“ Mm.. saya Cuma makan mienya doank. Tapi katanya teman-temanku, baksonya enak. Kamu suka bakso,kan?”
“ Ooh.. Iya..” Hanya itu yang saya katakan. Aku masih agak canggung untuk berbicara dekat dengannya. Masih ada sisa masa kemudian yang membuatnya terasa ganjil.
Aku masih sibuk mengamati sekeliling. Melihat orang yang sama-sama tuna netra saling berpegang bahu, dengan yang didepan membawa tongkat petunjuk arah. Mengamati keadaan lab komputer, terdapat enam unit dan semuanya bisa bicara, melihat ruang band, ada dram, gitar, keyboard, dan bas seadanya, melihat ruang aula sekaligus daerah bermain tenis meja ala kaum tunanetra, melihat ruang kantor yang sederhana dan seadanya. Dan sayangnya, saya tak sempat menenggok asrama putri, alasannya adzan dhuhur telah berkumandang dengan muazzim seorang tuna netra, namun suaranya sangatlah merdu.
“ Kamu tahu Qila, disini pertama kali saya tahu dan mencoba membuka tujuan hidupku yang baru. Mungkin lantaran saya merasa tidak sendiri.” Ujar Nurul usai shalat. Aku yang masih menggunakan mukenah, hanya membisu dan mencoba untuk memahami perasaan Nurul dengan keadaannya.
“ Mereka sama denganku, tapi mereka tak pernah menganggap diri mereka ada kekurangan. Memang, mereka mengakui keterbatasan tidak bisa melihat, tapi mereka selalu merasa diri normal. Berprinsip, beliau bisa, mengapa saya tidak bisa. Aku banyak mencar ilmu dari mereka. Aku merasa menemukan keluarga gres di sini, bersama mereka. Dan sekarang, saya sudah sedikit mengerti dengan tanggapan mereka bahwa mereka normal, mereka bisa melaksanakan yang mereka cita-citakan. Kebutaan bukanlah alasan berputus asa, namun berusaha lebih keras lagi untuk mengapai cita-cita.Dan kini, saya pun mempunyai semangat itu.”
Seketika hatiku serasa mencicipi kobaran api yang membara dalam semangat Nurul, mungkin bukan saja Nurul, tapi teman-teman tuna netra yang lain yang mempunyai visi yang sama yaitu mewujudkan mimpi, seburuk apa pun kondisi mereka dikala ini, seburuk apapun orang memandang mereka, itu bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk mewujudkan mimpi. Aku lagi-lagi aib dengan mereka. Semangat mereka yang sangat menginspirasi. Teringat video dalam semua program motivasi sekolah yang menayangkan para disabilitas yang bisa mematahkan kemustahilan dengan keterbatasan mereka. “ Mengapa mereka yang disabilitas yang harus menyadarkan kita wacana kehidupan?” tanyaku dalam hati dengan perasaan yang sangat malu. Tak kusadari, dua tetes air mata keluar, saya segera mengusapnya.
Jujur, awal saya tiba kesini, saya takut, saya sempat merasa ngeri dengan banyak sekali kondisi fisik mereka, ada juga perasaan ibah, kasian, namun semua itu berbalik ke padaku, ketika saya mulai mencoba berbincang dengan Nurul dan teman-temannya, mulai memahami mereka, mulai menjadi cuilan mereka, bahkan saya sadar, saya lah yang harusnya aib pada mereka, saya harusnya yang kasian dengan diriku sendiri yang selalu menyerah, dan melaksanakan hal yang sia-sia, padahal mereka harus dua-tiga-empat atau tak terhitung kalinya lebih bekerja keras untuk meraih mimpi daripada saya yang masih diberi penglihatan meskipun menderita rabun jauh.
“ Tapi Qila, tak bisa dipungkiri, kadang saya mengeluhkan keadaan ini, dari lubuk hati yang paling dalam. Apalagi kadang saya merasa ada diskriminasi.” Ujar Nurul ragu. Aku pun tak tahu harus berkata apa padanya, saya tidak berada di posisi dia, bahkan bila itu terjadi padaku, mungkin saya tak bisa sekuat Nurul.
“ Yang ku tahu, Nurul, Kamu dan teman-teman kau yaitu orang yang kuat. Dan saya aib dengan semangat kalian. Percayalah,, takdir Allah lebih indah dari pada skenario manusia, Nurul. “ Ujarku mencoba ceria walaupun hatiku duka ikut merasakannya.
“ Iya Qil, keluhan itu juga sendirinya buyar, dikala saya bertekad untuk membahagiakan mami-papi, saya juga pengen menjadi seorang penulis. Sepertinya tak ada gunanya mengeluh kan, Qil?” Ujar Nurul kembali bersemangat. Aku hanya tersenyum dan mengangkat kedua jempolku untuknya meskipun beliau tak sanggup melihatnya.
“ Nurul, katanya mau makan bakso bareng Aqilah, tukang baksonya udah ada tuh..” ujar Firdaus, sahabat Nurul yang tuna netra. Aku segera melipat mukenah, dan bergegas menuntun Nurul keluar sekolah untuk menghampiri tukang bakso yang Nurul maksud tadi.
Tepat pukul 16.00 WITA, saya dan Nurul berpamitan dengan guru-guru serta teman-teman Nurul untuk pulang. Perjalanan dari sekolah Nurul dengan rumahku dan Nurul mungkin memakan waktu sekitar satu jam.
“ Dia buta?” tanya salah satu penumpang angkot dikala saya gres saja menyandarkan pantatku di pojok kendaraan beroda empat angkot dengan Nurul yang berada di samping kiriku.
Aku yang ditanya seketika resah harus jawab apa. Aku takut kalau perkataanku nanti menyinggung Nurul. Aku mengerutu dalam hati, ‘ mengapa tante ini harus bertanya hal yang sensitif ibarat itu,sih?’
“ Iya, saya buta.hehe..“ Ujar Nurul lantang. Aku agak terkejut dengan tanggapan Nurul. Ketawa Nurul serasa mengisyaratkan ketidaksukaan namun harus berusaha untuk PD, yah itu anggapanku.
“ Buta kenapa temannya,de?” Ujar tante itu setengah berbisik. Aku lagi-lagi resah harus menjawab apa. Dan sepertinya indera pendengaran Nurul lebih tajam, hingga bisa mendengar terperinci pertanyaan tante itu.
“ Saya buta lantaran sakit, tante. Lebih tepatnya, tumor otak.” Jawab Nurul, lagi-lagi dengan bunyi lantang tapi kali ini dengan nada yang lebih bersahabat.
Aku pun hanya melempar senyum pada tante itu, dan mengangkat sedikit telapak ajun yang terbuka, berharap tante tersebut tidak menanyakan hal yang lebih sensitif lagi. Dan tampaknya tante itu memahami bahasa isyaratku, hingga ia pun terdiam, walaupun masih memandangi Nurul dengan tatapan selidik.
Sejam berlalu, kami pun telah hingga di rumah Nurul. Aku segera menuntut Nurul ke kamar Nurul. Aku segera membaringkan tubuh di daerah tidur nurul yang sebagiannya telah dipenuhi oleh boneka.
“ Qil, yang waktu di angkot, kau ngga’ usah merasa resah kayak gitu.” Ujar Nurul sambil bergantai pakaian.
“ Maksudnya,?” Tanyaku tak mengerti dan ngga’ mau mikirin soalnya mataku serasa mau tidur.
“ Yah.. kau kan tadi di tanya, apa saya buta? tapi kau malah diam, yah, saya ngerti sih, kau mau jaga perasaan aku,kan?” Ujar Nurul menduga-duga.
“ Iya, saya takut salah ngomong, kan kau tahu sendiri, kadang saya ceplas-ceplos ngga’ sadar ternyata orang terseinggung dengan omonganku, makanya saya resah mau jawab apa tadi.” Jelasku membenarkan dugaan Nurul.
“ Itu udah pertanyaan biasa lagi,Qil. Aku sudah beberapa kali ditanya hal ibarat itu, jadi kau ngga’ perlu resah untuk bilang iya. “ Ujar Nurul santai agak tertawa
“Kamu santai banget Nurul, padahal itu hal yang sensitif?” Tanyaku heran
“Emangnya orang buta itu orang hina kah, Qila? Emang kenapa kalau saya buta? Setidaknya orang buta masih lebih terhormat daripada orang yang koruptor atau orang kriminal. Lagian, buta bukan berarti tidak bisa melaksanakan apa yang orang normal lakukan kan,Qil. Terus kenapa harus aib mengakui diriku buta?” Jawab Nurul Aku pun mengengguk tanda setuju dengan perkataan Nurul.
Nurul benar, buta bukan berarti hina, buta bukan berarti lemah, lantaran mereka pun bisa melaksanakan apa yang orang normal lakukan dengan cara mereka sendiri. Dan mencar ilmu dari Nurul beserta teman-temannya bagiku merupakan pendidikan hidup. Sebab, ketegaran dan semangat mereka untuk hidup, baik itu dalam menempuh pendidikan di SLB, dalam bergaul serta dalam mengapai cita-cita. Dan saya bersyukur, lantaran bisa mengenal dan menjadi cuilan dari mereka.
Sumber gamepelajar.xyz
Posting Komentar untuk "Musuh Berhati Malaikat"