Berbagi Pengalaman Menjadi Seorang Cerebral Palsy
Menjadi seorang cerebral palsy bukanlah sesuattu yang harus disesali bagi para yang menyandangnya dan bagi orang renta yang mempunyai anak gangguan gerak motorik serta keseimbangan tubuh. Tapi ini yaitu sebuah anugerah dan ujian yang harus kita hadapi dengan penuh ketegaran dan senyuman supaya semua ujian bisa terlewati dan sanggup menimbulkan belum dewasa penyandang cerebral palsy menjadi berdikari dan sukses menyerupai belum dewasa normal laiinnya.
Tahun 2013 kemarin hasilnya saya bisa menuntaskan studi disalah satu universitas swasta di kota Gorontalo. Dengan mendapatkan gelar sarjana sistem informasi merupakan hasil kerja keras dan usaha selama 4 tahun untuk sanggup melawan rasa malu,, malas,, rendah diri, egois dan segala jenis perasaan yang mennyelimuti hati seorang penyandang Cerebral Palsy. Cerebral Palsy mungkin telah menjadi takdir saya semenjak dilahirkan secara prematur 24 tahun yang lalu, dalam kondisi yang sangat lemah, ayah dan almarhumah ibu saya mencoba untuk mendapatkan keadaan yang tak gampang dijalani bagi orang renta manapun, tapi Alhamdullillah kedua orang renta saya mempunyai hati yang mulia yang tak menyia-nyiakan saya yang sudah divonis oleh dokter kalau saya tidak mempunyai umur yang panjang untuk bertahan hidup lantaran kondisi yang sangat lemah dan kecil, jikapun hidup saya akan menjadi orang idiot dan lumpuh. Dokter pun menyuruh orang renta saya untuk hamil lagi tetapi mereka tidak mengikuti saran dokter tersebut.
Kedua orang renta saya pun memutuskan untuk menunda kehamilan supaya bisa lebih focus untuk merawat saya yang begitu lemah hingga usia saya 4 tahun lebih ketika saya sudah bisa berjalan barulah almh.ibu saya memutuskan untuk hamil lagi. Kata dia waktu masih dalam perawatan saya selalu dikasi makanan- kuliner yang bergizi tiap hari, makanannya selalu dibelender dan alhamdulilah saya bisa jalan pada usia 4 tahun.
Saya memang tidak pernah melaksanakan fisioterapi oleh para terapis-terapis lantaran saya tinggal dikota kecil, tapi semenjak saya kecil saya selalu dipijat oleh ibu dan nenek saya, waktu kecil gerakan leher saya susah untuk dikendalikan saya pun sering mengalami sakit dibagian leher. Beruntung saya mempunyai orang renta yang sabar memijat leher saya, kalau sakitnya parah saya sering dibawa ke tukang pijat Saya juga semenjak kecil sudah dibiasakan untuk berdikari menyerupai makan sendiri, mandi sendiri, dan mengerjakan pekerjaan rumah menyerupai menyapu dan mengepel lantai. Mungkin itu terapi yang sangat efektif bagi saya
Saat usia saya 6 tahun saya dimasukkan di sekolah SD yang akrab dengan komplek rumah saya, disana saya hanya bisa bertahan 3 hari, lantaran saya sering menanggis ketika berada di sekolah. Bagaimana saya tidak menangis,saya ditertawai dan dilihat oleh semua siswa yang ada di sekolah. saya kan insan sama menyerupai mereka, kenapa mereka menertawai dan mengejek saya? tak mengerti tetang apa yang mereka pikirkan perihal saya? Namun kini saya mengerti belum dewasa itu belum paham perihal disabilitas lantaran kurangnya sosialisasi perihal disabilitas di lingkungan sekolah dan masyarakat umum.
Atas saran guru-guru di sana saya dianjurkan untuk masuk ke SDLB kota Gorontalo. Di sana saya diindentifikasi menyandang cacat mental atau biasa yang dikenal dengan Tuna Grahita. Tahun ketiga saya dipindahkan ke kelas Tuna Daksa lantaran sehabis diperhatikan saya bukan termasuk type Tuna Grahita, tapi lebih mengarah ke gangguan gerak motorik. Ya, dari bencana menyerupai ini saya menerima satu insprasi untuk menciptakan aplikasi “Sistem Pakar Indentifikasi Jenis-jenis Kecacatan”dan ini juga menjadi materi penelitian Skiripsi saya pada tahun kemarin.
Masa-masa SD yaitu masa-masa indah bagi sebagian belum dewasa pada umumnya, tapi itu tidak berlaku bagi saya yang bersekolah di SDLB, saya merasa sendirian tidak punya sahabat banyak untuk bermain dan mencar ilmu bersama, lantaran memang jumlah siswa SDLB ketika itu yang berjumlah sedikit khususnya dikelas Tuna Daksa. Paling banyak siswa Tuna Grahita dan siswa Tuna Rungu, saya jarang bermain dengan mereka mungkin lantaran faktor komunikasi dan pikiran yang sangat berbeda. dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku di perpustakaan sekolah, ya mungkin hikmahnya sudah terasa sekarang. saya menjadi lancar untuk berkomunikasi dengan siapa saja khususnya chating di dunia maya, sehingga tidak heran saya punya banyak teman-teman di dunia maya dan saya juga lancar untuk mengarang dan menulis. Sungguh Tuhan Maha Adil.
Saya sangat bersyukur mempunyai orang renta yang mau menyekolahkan dan tidak malu mempunyai anak difabel menyerupai saya. Nasib saya lebih beruntung ketimbang belum dewasa yang saya temui disepanjang jalan menuju sekolah SLB, mereka dibiarkan tidak sekolah padahal orang renta mereka bisa untuk menyekolahkan mereka, mungkin mereka menganggap mempuynai anak difabel itu malu atau kurangnya pengetahuan mereka perihal menangani anak difabel. Semoga kedepan ada aktivitas dari pemerintah yang mensosialisasikan pendidikan bagi belum dewasa difabel dari sentra hingga tingkat kelurahan.
Alhamdulillah sehabis lulus dari SDLB saya disarankan untuk ikut aktivitas sekolah Inklusi yang pertama kali di Gorontalo yang diselenggaralakan oleh Sekolah Menengah Pertama 6 kota Gorontalo. Ya, perasaan ku waktu itu sangat senang becampur trauma. Senangnya lantaran saya bisa sekolah di sekolah umum dan niscaya akan banyak teman-teman, tapi saya juga trauma, takut kalau saya tidak besar lengan berkuasa dengan olok-olokan teman-teman sebaya lantaran cerebral palsy. Tapi perasaan stress berat itu segera dihapus oleh mama, katanya “Afni itu harus punya mental yang kuat! Tunjukkan pada mereka kalau Afni bisa berprestasi!”, kata-kata almh ibu menciptakan saya menjadi besar lengan berkuasa dan bisa melawan rasa malu ketika saya diejek selama bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Inklusi.
Saya merasa sangat senang bisa melewati masa-masa Sekolah Menengah Pertama di Sekolah Menengah Pertama 6 kota Gorontalo, paling tidak saya bisa mencar ilmu dengan teman-teman sebaya, tidak menyerupai waktu SD yang hanya sendirian. Walaupun masih ada belum dewasa yang mengejek saya, tapi itu semua tidak menyurutkan semangat saya untuk belajar, saya bisa membuktikan pada mereka kalau saya juga bisa berprestasi dengan selalu masuk dalam urutan 10 besar di kelas. saya bersyukur punya teman-teman yang selalu mengerti dengan kekurangan saya, mereka dengan sabar mendengarkan ketika saya berbicara dan selalu membantu saya menuliskan catatan yang diajarkan guru. Terima kasih Tuhan sudah menawarkan teman-teman yang baik hati.
Selama saya bersekolah juga saya sering diikutkan dalam lomba-lomba yang diadakan ditingkat provinsi dan nasional khusus untuk para belum dewasa yang berkebutuhan khusus. Lomba yang paling berkesan yaitu ketika saya menjadi penerima lomba mengarang dan pidato bahasa inggris tingkat nasional yang diadakan di kota bandung. Hehe ternyata lombanya itu khusus belum dewasa normal axelerasi hanya 4 orang saja yang penerima penyandang disabilitas, tapi saya ngak malu kok untuk tampil semaksimal mungkin dan saya sangat bersyukur mengikuti lomba tersebut lantaran saya bisa mempunyai teman-teman yang banyak.
Ujian terberat dalam hidup saya tiba ketika saya lulus SMP. Keinginan saya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang Sekolah Menengan Atas pupus sehabis saya ditolak di Sekolah Menengan Atas umum. Alasan pihak Sekolah Menengan Atas menolak saya lantaran belum ada guru khusus untuk mendampingi saya dan teman-teman difabel lainnya, sungguh itu alasan yang sangat dangkal bagi saya. Mereka tidak menawarkan saya kesempatan untuk sekolah tanpa melihat terlebih dahulu apa saya bisa secara akademik atau tidak, mungkin bukan saya saja yang pernah mengalami diskiriminasi menyerupai ini. Harusnya para pihak sekolah ataupun organisasi lainnya menawarkan kesempatan untuk kami supaya bisa bermasyarakat dan bersosialisasi dengan masyarakat umum.
Berbagai usaha orang renta saya lakukan, bersama orang renta teman-teman sesama difabel, kami berusaha untuk minta keadilan kepada dinas pendidikan Gorontalo, namun jawabannya tetap tidak ada hasilnya. Kami pun berusaha untuk mengadukan hal ini kepada bapak Gubennur Gorontalo. Setelah beberapa ahad menunggu kepastian perihal nasib kami, hasilnya kami menerima kabar kalau kami akan di sekolahkan SMALB yang akan dibuka pada tahun itu juga. Mendengar kabar itu entah kenapa saya tidak bersemangat untuk melanjutkan lagi, saya bisa membayangkan suasana kalau saya bersekolah di SMALB sama menyerupai saya bersekolah di SDLB lalu.
Bayangan saya pun menjadi kenyataan bahkan lebih dari itu, pada semester pertama saya bersekolah di SMALB saya merasa menyerupai tidak bersekolah, lantaran tak ada guru yang mengajar kepada kami. Semangat saya pun hilang, hasilnya saya jatuh sakit selama beberapa bulan tak sanggup bersekolah. Orang renta sayapun menjadi sedih melihat kondisi saya pada ketika itu. Mereka pun kembali berusaha menawarkan saya semangat untuk tetap bersekolah walaupun di SMALB.
Pada tahun aliran gres 2006, saya pun kembali bersekolah di SMALB dan kembali duduk dikelas satu SMA. Alhamdulillah saya bisa kembali mencar ilmu walaupun masih tidak maksimal. Ada beberapa guru kontrak dan gaji yang disediakan pemerintah untuk mengajar saya dan teman-teman difabel yang bersekolah di SMALB. Dengan kondisi seadanya saya mencoba untuk tetap semangat bersekolah meski sering tidak mencar ilmu di sekolah lantaran kurangnya guru yang ada mengakibatkan saya lebih banyak mencar ilmu sendiri.
Mungkin Tuhan menawarkan saya nasihat dibalik ujian yang menghampiri saya ketika itu. Memang saya tak sanggup pelajaran Sekolah Menengan Atas secara umum menyerupai teman-teman Sekolah Menengan Atas pada umumnya, tapi saya mendapatkan pelajaran perihal arti kehidupan sebenarnya, itu semua saya dapatkan dari diskusi-diskusi yang sering saya lakukan dengan guru-guru gaji SMALB. Saya sering bertanya perihal masalah-masalah yang ada diberita seperi politik, hukum, agama dan lain-lain. Jujur, dari sana saya mendapatkan abjad yang besar lengan berkuasa dalam pendirian, berani dalam membela kebenaran serta tawakal kepada Allah SWT.
Di SMALB saya juga mengenal pertama kali dunia komputer yang diajarkan oleh guru-guru. Awalnya saya nampak kesulitan dalam menggunakannya khususnya menggunakan mouse lantaran ketergangguan gerak motorik, tapi sehabis rajin latihan hasilnya saya lancar mennggunakan komputer. Saya pun mulai banyak membeli buku-buku perihal komputer, sering ke warnet untuk mencar ilmu internet sehabis pulang sekolah. Kadang-kadang sata rela tidak jajan untuk membeli buku dan main ke warnet, lantaran saya sangat menyukai komputer dan saya berharap suatu ketika nanti sanggup menjadi Profesional IT menyerupai Biill Gates yang mendirikan Microsoft Corporation yang merupakan software operation system yang paling banyak dipakai pada masa ini.
Akhirnya tiba juga saatnya untuk saya lulus dari SMALB. Mulanya saya ragu untuk melanjutkan kuliah lagi lantaran stress berat ditolak oleh pihak Universitas lantaran saya yang hanya seorang difabel. Tapi lagi-lagi alm,ibu saya yang menawarkan semangat untuk tetap optimis supaya saya tetap melanjutkan pendidikan ku ke jenjang perguruan tinggi. Atas saran guru saya mencoba mendaftar di salah satu Universitas Swasta yang ada di Gorontalo. Alhamdulillah saya pun diterima sehabis mengikuti test masuk dan melengkapi semua adinistrasi yang ada.
Alhamdulillah tidak perlu waktu usang untuk saya supaya bisa menyesuaikan diri dengan keadaan kampus dan saya juga bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman mahasiswa lainnya. Para dosen-dosen pun mengerti dengan kondisi saya, mereka memperlakukan saya sama menyerupai mahasiswa pada umumnya. Saya hanya minta keringanan ketika ujian saya minta didampingi seseorang sahabat untuk menulis jawaban, lantaran rgangguan gerak motorik mengakibatkan saya kesulitan dalam menulis.
Selama perkuliahan saya dikenal sebagai orang yang banyak bergaul tak heran kalau dikampus saya banyak ditegur padahal saya ngak kenal sama mereka.hehe. Saya tak pernah membenci teman-teman yang hanya memanfaatkan saya, lantaran kalau saya benci pada mereka pahala saya juga bakalan habis. Lebih baik saya enjoy aja dan lebih menyibukan diri dengan mencar ilmu lantaran bidang study yang saya ambil sangat bekerjasama dengan teknologi yang setiap waktu berkembang dengan pesat. Jadinya saya lebih banyak mengikuti seminar-seminar IT dan pernah juga menjadi pemerkarsa seminar nasional yang pertama kali diadakan dikampus saya.
Akhirnya saya besar hati menjadi seorang penyandang cerebral palsy yang mempunyai banyak sahabat dan mempunyai kegunaan bagi orang-orang disekitar saya. Perjalanan saya tentu masih panjang tak berhenti dengan mendapatkan gelar sarjana saja, dan sangat berharap bisa lebih dari itu. Sehingga saya bisa menciptakan besar hati kedua orang renta saya khusunya almarhumah ibu saya dan bisa merubah pandangan masyarkat umun menganai kaum difabel. Serta bisa merubah pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi sehingga Indonesia bisa menjadi Negara maju menyerupai bangsa-bangsa lainnya.(my big dreams), mohon doanya ya bagi para pembaca
Semoga goresan pena ini bisa memberi semangat bagi teman-teman sesama disabilitas untuk berani bermimpi dan mewujudkan semua impian yang kita nniliki, lantaran kita sama menyerupai orang-orang normal lainnnya yang berhak untuk mencapai kesuksesan. Mungkin Tuhan menampakan kekurangan kita tapi yakinlaah Tuhan maha adil niscaya Dia menawarkan kita kelebihan-kelebihan apabila kita mau berusaha untuk mengasahn
Sumber gamepelajar.xyz
Posting Komentar untuk "Berbagi Pengalaman Menjadi Seorang Cerebral Palsy"