Membuka Kesempatan Berguru Aikido Bagi Tunanetra

Aikido merupakan salah satu beladiri yang berasal dari Jepang. Pendiri beladiri ini berjulukan Morihei Ueshiba. Saat ini dia telah memiliki banyak pengikut dan Aikido telah merambah ke seluruh penjuru dunia. Oleh alasannya yaitu jasanya dalam mendirikan dan menyebarluaskan Aikido, selanjutnya Morihei Ueshiba menerima sebutan O Sensei atau Guru Besar sebagai penghormatan kepada dia dari para muridnya. Baca juga Sejarah Aikido
Di dalam proses pelatihan, penerima melaksanakan teknik Aikido secara berpasangan. Titik berat ajarannya tidak pada kecepatan dan kekuatan fisik, tetapi pada harmonisasi gerak dan penjiwaannya. Dengan demikian unsur batin berupa penghayatan dan kebersamaan sangat penting. Orang awam akan melihat Aikido sebagai bukan beladiri alasannya yaitu gerakannya yang lembut dan menyerupai orang menari berpasangan. Kebersamaan dan kasih sayang itulah yang melandasi pelajaran beladiri Aikido.
Disabilitas, khususnya tunanetra dalam ketidakmampuannya untuk melihat, tetapi di dalam kehidupan tetap memerlukan kemampuan membela diri. Banyak cerita, antara lain para tunanetra yang bermata pencaharian sebagai pemijat baik lelaki maupun wanita sering menjadi korban tindak kejahatan, baik pelecehan seksual, perampasan, dan lain-lain. Kemampuan mempertahankan martabatnya sebagai insan walaupun menyandang disabilitas tentu saja sangat penting bagi mereka.
Di dalam buku-buku kisah berlatar belakang Aikido, terdapat tokoh legendaris yang berjulukan Zatoichi. Beliau bisa mempergunakan pedang dengan sangat jago walaupun yang bersangkutan buta, sehingga sangat ditakuti lawan-lawannya. Legenda ini telah memasuki dunia layar lebar, yaitu antara lain berjudul Blind Swordman: The Zatoichi.
Adanya tokoh Aikido yang buta di dalam legenda bukan berarti membuka kesempatan secara pribadi para tunanetra berlatih. Tokoh tersebut ada di dalam kisah dan belum tentu ada dalam sejarah nyata. Hal itulah yang menarik dalam salah satu cuilan hidup saya sebagai tunanetra yang berhasil diterima sebagai murid Aikido dan pertanda bahwa tunanetra mampu. Semoga sepenggal kisah hidup yang tertuang dalam goresan pena berikut, sanggup menginspirasi.
Tanggal 22 Januari 2013, saya selaku Ketua DPD Pertuni Jawa Tengah masa bakti 2010-2015 menghadiri ajakan di auditorium RRI Semarang. Teman satu meja pada program tersebut yaitu seorang pengurus training Aikido di RRI Semarang. Oleh alasannya yaitu berada dalam satu meja, kami berbincang banyak hal termasuk perihal training Aikido. Pada suatu kesempatan, muncul pertanyaan wacana kemungkinan tunanetra mengikuti training tersebut. Jawaban yang muncul bukanlah jawaban, melainkan pertanyaan. Teman gres tersebut menanyakan wacana minat untuk berlatih Aikido. “Tentu”, jawab saya.
Banyak sekali tunanetra yang mengalami pelecehan dan memerlukan kemampuan beladiri dalam jarak dekat. Adanya tunanetra yang berhasil mengikuti training Aikido, akan sanggup menjadi model bagi training beladiri bagi sesamanya. Selain itu, kemampuan tersebut akan menjadi modal untuk melaksanakan advokasi bagi kepentingan disabilitas.
Teman tersebut selanjutnya menghubungi para instruktur Aikido di Dojo Mishogi yang berlokasi di lingkungan RRI Semarang. Beliau menanyakan kemungkinan tunanetra untuk ikut berlatih. Ternyata, para instruktur mengizinkan.
Para penerima training yang lain dan juga para pelatihnya mendapatkan dengan baik, walaupun mereka belum paham wacana tunanetra. Para instruktur atau sensei, pada mulanya belum memiliki citra cara melatih tunanetra. Peserta training yang lain merasa canggung alasannya yaitu tidak tahu cara bersikap. Hal itu mengingat training Aikido dilakukan secara berpasangan.
Uraian para sensei membantu memahami bentuk teknik gerakan atau di dalam Aikido disebut Waza. Tentu saja uraian tersebut belum cukup memberi citra secara utuh, tetapi cukup membantu. Selanjutnya, orientasi dilakukan melalui perabaan badan sensei dalam tiap tahap gerakannya.
Gambaran yang timbul mengakibatkan imajinasi dalam pikiran. Imajinasi itulah yang berusaha dimunculkan dalam bentuk gerakan fisik. Selama proses itu, niscaya banyak kekeliruan, dan para senseilah yang berusaha menuntun untuk memperbaikinya. Proses ini jauh lebih rumit dan panjang dibandingkan penerima training yang awas. Mereka cukup melihat para sensei ketika memberi pola Waza dan selanjutnya berusaha mempraktekkan.
Kesulitan bertambah lagi ketika menginjak pada gerakan berputar. Aikido memiliki secara umum dikuasai gerakan yang berputar baik yang horisontal, maupun yang vertikal atau rol. Objek yang sedang melaksanakan gerakan berputar vertikal tidak sanggup diraba. Inilah kesulitan dan tantangan penerima training dari kalangan tunanetra. Melalui proses mencoba yang terus-menerus menurut teori yang telah diberikan, balasannya Ukemi atau rol baik yang ke depan maupun ke belakang sanggup dilakukan.
Tantangan selanjutnya berupa Waza untuk menghadapi serangan yang tidak berupa sentuhan. Tunanetra memiliki kendala untuk melihat, dengan demikian kesulitan ini sungguh luar biasa. Guna meminimalkan kesulitan, maka para sensei mengadaptasi training berupa pelengkap bunyi peringatan ketika serangan dilakukan. Melalui peringatan tersebut, adanya serangan sanggup diketahui dan selanjutnya Waza sanggup diterapkan sesuai petunjuk. Dengan demikian, tunanetra akan bisa menghadapi kesulitan bila ada pendampingan dan modifikasi metode.
Guna meningkatkan kemampuan teknik Aikido, Sensei senior di Dojo Mishogi menugaskan kepada salah seorang sensei yuniornya untuk melatih secara perorangan. Kita tentu maklum bahwa tunanetra akan memerlukan proses lebih panjang ketika berlatih bersama dengan yang bukan tunanetra. Untuk membantu memahami teknik Aikido, maka training secara pribadi tersebut diadakan. Harapannya tentu saja semoga lebih bisa mengikuti training secara bersama selanjutnya.
Perhatian yang besar muncul sehabis mereka menyaksikan semangat tunanetra yang bersangkutan. Sebagai pertolongan atas semangat tersebut, para sensei melaksanakan terobosan untuk menawarkan training tersendiri. Tentu saja bila tidak ada kesungguhan, mereka juga tidak akan menawarkan pertolongan sebesar itu. Hal semacam ini tidak terjadi pada proses training Aikido saja. Apabila tunanetra tidak memperlihatkan kesungguhannya, maka masyarakat sekitar akan diam.
Sebagai perjuangan mensosialisasikan Aikido, penerima training di RRI Semarang mengikuti Japan Indonesian Community. Saya merupakan salah satu pemeran dalam demonstrasi untuk program tersebut. Ada pun link video demonstrasi pada ketika Japan Indonesian Community mencakup : tahun 2014 sanggup dilihat di sini dan tahun 2013 silakan lihat di sini.
Sumber gamepelajar.xyz
Posting Komentar untuk "Membuka Kesempatan Berguru Aikido Bagi Tunanetra"